juara 1 masterchef anin nayla ril 100% >_< #applecrumble #stecuimupPpPp #indonesiaemasbersamakita
PERKEDEL GELAP GULITA
Hari Sabtu sore, hujan turun deras banget. Petir sambar-sambaran kayak efek film superhero. Karena nggak bisa ke mana-mana, aku ngajak Anin ke rumah buat masak bareng. “Bikin apa, ya?” tanya aku waktu itu.
“Perkedel aja, gampang!” jawab Anin dengan percaya diri.
Gampang, katanya.
Sekarang, satu jam kemudian, dapurku udah kayak kapal pecah. Kentang di panci belum empuk, tepung berceceran, dan aku mulai merasa kami berdua butuh chef profesional.
“Anin, ini kenapa kentangnya keras banget? Aku udah rebus dari tadi loh!”
Anin nengok santai sambil ngulek bawang. “Emang kompornya nyala?”
Aku nengok ke panci. Api: tidak ada.
“...Oh.”
Anin langsung ngakak. “Naylaaa! Kamu rebus kentang pakai niat doang ya?!”
“Diam, Nin! Gasnya bandel, bukan aku yang salah!”
Akhirnya aku nyalain kompor dan nunggu lagi. Sementara itu, kami berdua mulai curhat tentang ujian, cowok-cowok di sekolah, dan hal-hal random kayak teori kalau perkedel bisa menyatukan bangsa. Setelah kentangnya empuk, aku mulai ngulek. Tapi karena aku terlalu semangat, setengah adonan muncrat ke baju Anin.
“NAAYLAAA!”
“Ups. Itu... efek spesial?”
“Efek sabar aku mau habis!”
Kami akhirnya selesai bikin adonan, walau bentuknya agak... mencurigakan. Saat mau digoreng, aku pegang wajan panas, lalu—CZZZHHH!—minyak nyiprat ke mana-mana!
“Aaaaaa!!!”
Kami berdua teriak bareng kayak lagi latihan paduan suara.
Tapi yang paling parah? Saat akhirnya semua perkedel gosong siap disajikan... BRUK! Petir menyambar, dan PLUP! lampu langsung mati. Gelap gulita.
“AAAAAA LAMPUUUUU!” teriakku.
Dari sebelah dapur, aku dengar suara barang jatuh. “ANIN?! Kamu kejedot?!”
“Nggak, cuma nabrak meja. Aduh, lututku!”
Aku meraba-raba cari senter di laci, tapi yang aku temukan malah… mentega. “Aku dapet mentega, Nin! Mau?”
“Mentega nggak bisa nyala, Nay!”
Akhirnya aku nemu senter dan menyorot ke arah Anin. Wajahnya penuh tepung, kayak hantu yang habis masak.
“Aduh Nin, mukamu kayak kue cucur gagal!”
“Cermin, Nay. Kamu juga mirip gorila tepung.”
Kami tertawa sampai sakit perut, lupa sama hujan, lupa sama gosongnya perkedel. Akhirnya kami duduk di lantai dapur, makan perkedel seadanya di bawah cahaya senter.
“Enak juga, ya,” kataku sambil mengunyah.
“Ya, karena kita yang bikin,” jawab Anin sambil senyum.
Aku ngakak, “Atau karena kita kelaparan!”
Comments
Post a Comment